Untuk Sahabat

May 26th, 2008 by as3kayla

                                                  Untuk Seorang Sahabat                                                   

                                                       

Mungkin waktu kan
terus berlalu, membawa buih-buih pergi menjauh. Dan manusia hanyalah
butir pasir berserak di hamparan zaman, yang mengikuti kemana angin
takdir berhembus. Dan mungkin waktu melapukkan batu, membuat besi
menjadi karat; Mengubah dunia menjadi tidak seperti yang kita kira dan
angankan. Walau sungguh pun waktu berkuasa, persahabatan sejati takkan
mudah pudar olehnya.

Akan kenangan saat mimpi-mimpi bersemi
semerbak, dan akan kenangan saat mimpi-mimpi terhempas berkeping di
jalan berlubang kehidupan — dan kau ada di sana sebagai sahabat yang
memahami segala keluh kesah. Atas kebaikan yang mungkin tidak kau
sadari, oleh sekedar canda yang membuat hidup ini lebih memiliki arti;
menjauhkan rasa nyeri sedari.

Dan sahabat, jika apa yang kita
miliki memang persahabatan yang tulus, maka ada tali silaturahmi yang
mesti kita jaga. Walau jarak merenggangkan ikatan, dan harapan-harapan
membawa kita berlayar ke negeri-negeri asing; ketahuilah bahwa ada
seorang sahabat yang akan membantumu jika engkau membutuhkannya.

Kado
ini tak lebih berharga ketimbang kebaikanmu selama ini. Hanya sekeping
tanda mata agar kau tak lupa, bahwa ada – ada bahagia untuk menjadi
seorang saudara.

Perempuan Berkerudung Api

April 29th, 2008 by as3kayla

Perempuan Berkerudung Api

Cerpen : Damhuri Muhammad

(Media Indonesia, 27 November 2005)

TIADA cela pada diri Nilam Sari. Cerdas otaknya. Tinggi sekolahnya. Taat ibadahnya. Anggun paras wajahnya. Santun tutur katanya. Lembut suaranya bila menyapa. Pandai benar ia membawa diri. Maka, banyaklah lelaki yang menaruh hati, berhasrat ingin mempersuntingnya. Pinangan pernah datang dari Tanbara. Lelaki dari kampung sebelah. Kabarnya, sudah tiga tahun berdinas sebagai tentara. Nilam Sari hanya menunduk dan diam sewaktu Tanbara beserta keluarga datang melamar. Tapi, bukankah tak menjawab sudah berarti sebuah jawaban? Diam pertanda menerima.

Senang tiada terkira Cu Sidar merasa. Tak disangka, ia bakal punya menantu tentara. Berpangkat sersan pula. Tegap tampangnya. Berwibawa penampilannya. Serasa mendiang ayah si Nilam bakal hidup lagi. Almarhum suami Cu Sidar, dulu juga tentara. Maka, yang hilang bakal berganti. Tentara berganti tentara. Semoga kelak mereka dikaruniai anak laki-laki yang bercita-cita jadi tentara pula.

Saat akad nikah akan digelar, (sebelum ijab dan qabul diucapkan di depan penghulu), tiba-tiba Tanbara menghentak-hentak seperti kesurupan, dan menolak duduk bersanding dengan calon istrinya. Gemetar dan menggigil lelaki berkepala cepak itu setelah melihat Nilam Sari muncul dari kamar, mengenakan baju pengantin, lengkap dengan kerudung yang melingkar di kepalanya. Konon, dari kerudung merah jambu penuh renda-renda itu, asal-muasalnya petaka. Percaya atau tidak, Tanbara bersaksi, kerudung itu dilihatnya serupa lidah api yang menjalar-jalar di ubun-ubun Nilam Sari. Perempuan itu seperti sedang menjunjung tungku yang menyala. Panas minta ampun hawa di dalam rumah Cu Sidar. Tanbara berkeringat, disertai cemas dan waswas bakal dilalap api bila mereka tetap menghadap penghulu. Seperti dikejar hantu Tanbara lari terbirit-birit, meninggalkan kerumunan orang-orang yang terperangah keheranan.

"Tidak, saya tidak akan menikah dengan Nilam. Ia memakai kerudung api. Bisa mati gosong saya dibuatnya," ucap Tanbara berulang-ulang, serupa orang mengigau.

Malanglah nasib Cu Sidar. Maksud hati hendak menggelar pesta besar-besaran. Kambing dan sapi sudah siap disembelih. Undangan sudah tersebar pula. Tapi celaka! Akad nikah batal. Entah iya, entah tidak. Nilam Sari mengenakan kerudung api. Membikin takut si tentara, hingga tak berani mendekat. Ah, siapa pula yang tak gamang melihat kobaran api? Hari itu, Cu Sidar gagal bermenantu tentara.

"Kerudung macam apa pula kiranya yang kaupakai, Nilam?"
"Apa benar yang dikatakan Tanbara?"
"Sudahlah, Mak! Mungkin tak berjodoh awak dengan tentara."

Tak sekali dua musibah ini menimpa Cu Sidar. Pernah pula pinangan datang dari Zulkifli, si perantau muda. Kabarnya, sudah punya toko kelontong di Jakarta. Setinggi-tinggi terbangnya burung bangau, di kubangan juga tempat hinggapnya. Sejauh-jauh Zulkifli merantau, di kampung juga ia hendak mencari bini. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Nilam Sari, si gadis elok laku kebetulan masih sendiri. Jatuhlah pilihan pada perempuan itu.

Sejatinya, sudah tersiar ‘kabar kabur’ soal Nilam Sari. Anak tunggal Cu Sidar itu memang cantik alang kepalang, mengundang puja-puji, decak kagum di sana-sini. Tapi, manalah mungkin Zulkifli dapat memilikinya? Nilam Sari serupa mawar berduri. Sedap hanya dipandang mata. Bila disentuh, Eiit…! Tangan bisa terluka. Dari mulut ke mulut diceritakan, perempuan itu kerap terlihat memakai kerudung api. Menyala, menjalar-jalar, serupa api unggun yang berkobar di ubun-ubunnya. Lebih-lebih, bila yang melihat adalah lelaki yang menaruh hati.

"Awak tak peduli. Akan awak lamar itu si Nilam," tekad Zulkifli, meluap-luap, menggebu-gebu.
"Setelah menikah, akan awak boyong ia ke Jakarta."
"Coba saja kalau kau berani!"
"Tubuhmu bakal hangus terbakar di malam pertama."
"Ingat, Nilam Sari tak akan pernah bersuami!"
"Diam kalian! Sebentar lagi awak akan jadi lakinya."

Begitulah. Nilam Sari tak menyela barang sepatah kata pun ketika ibu-bapak Zulkifli melamar ke rumah Cu Sidar. Seolah tiada bertenaga ia mengangkat kepala, sekadar menatap kening Zulkifli yang makin mengilat saja sejak sukses jadi pedagang. Tentu, diam sudah jadi kiasan sebuah jawaban. Nilam Sari tak banyak pilih.

Giranglah pula hati Cu Sidar. Dihitung-hitungnya persediaan uang yang tersisa, guna menggelar helat yang hanya sekali seumur hidupnya. Bila tak cukup, tidaklah soal. Jual saja satu-dua koin emas yang tersimpan rapi dalam kaleng bekas biskuit di biliknya. Tak perlu khawatir, bila kelak si Nilam benar-benar diboyong ke Jakarta. Sekali waktu bila rindu, bolehlah Cu Sidar berkunjung ke sana. Menjenguk cucu sambil melihat-lihat usaha si menantu. Pun, bila modal berdagang perlu ditambah, tak pula sukar bagi mertua kaya seperti Cu Sidar. Lelang saja sawah barang sepetak dua petak. Lalu, uangnya kirimkan untuk Zulkifli!

Tapi musibah datang lagi. Meski baju pengantin sudah berganti. Kali ini bersulam benang emas, mengilat kekuning-kuningan. Kerudung penutup kepala juga bukan Merah Jambu lagi. Sudah berganti Putih, pertanda hati yang suci. Namun, tetap saja ubun-ubun Nilam Sari menyemburkan hawa panas yang membara. Lidah api menjilat-jilat, menjalar-jalar. Belum lagi penghulu datang, Zulkifli sudah lari terkangkang-kangkang. Serupa dikejar hantu, calon mempelai itu menghamburi kerumunan tamu, lalu melompat lewat jendela. Tak tahan ia menanggung panas yang menyeruak dari kerudung api di kepala Nilam Sari.

"Menyesal awak cari bini di kampung ini. Masa si Nilam berkerudung api. Bisa hangus jadi abulah awak nanti."
"Cari gadis lain, jangan kawin dengan perempuan berkerudung api!"

****
Mana mungkin kami dapat memiliki delapan belas bidang sawah, empat bidang kebun kelapa, tiga kaveling ladang cengkih, dan berpuluh-puluh keping koin emas itu, bila anak gadisnya masih ada? Silsilah keluarga Cu Sidar tidak akan punah selama Nilam Sari, putri tunggalnya itu masih hidup. Tentu, ke tangan perempuan itulah hak waris bakal jatuh. Akan bertambah panjang pula penantian kami bila gadis hitam manis itu sudah dilamar orang. Menikah, berketurunan, berkembang biak melahirkan ahli-ahli waris baru. Tapi, kami sudah lama melarat. Kami ingin hidup makmur seperti Cu Sidar, saudara jauh kami itu. Kami ingin menjadi ahli waris hartanya. Sudah bosan kami hidup miskin. Tapi, bagaimana caranya?

"Nilam Sari tak boleh dapat jodoh!"
"Banyak yang jatuh hati padanya. Mana mungkin kita halangi?"
"Pokoknya, jangan sampai ia menikah, apalagi punya keturunan."
"Apa yang mesti kita perbuat?"
"Bila tak mempan cara lahir, pakai cara batin. Guna-gunai saja perempuan itu!"

Sedikit lega kami merasa. Kini, Cu Sidar sudah tiada. Sejak kegagalan demi kegagalan perkawinan anak gadisnya itu, sering ia sakit-sakitan. Jarang keluar rumah, mengurung diri dalam bilik. Ada kami tawarkan bantuan, hendak membawa perempuan ringkih itu ke rumah sakit. Siapa tahu ia mengidap penyakit kronis. Soal biaya, tidaklah jadi pikiran. Tinggal menjual satu-dua koin emas yang masih menumpuk dalam kaleng bekas biskuit. Tapi Cu Sidar menolak. Ini sudah penyakit tua, percuma, katanya. Kian hari, kian buruk saja keadaannya, hingga Cu Sidar terbaring lemas, berhari-hari tak sadar diri. Meninggal juga Cu Sidar akhirnya. Kami kuburkan jenazahnya di belakang rumah, sesuai wasiatnya.

Agaknya tidak akan lama lagi kami menunggu. Delapan belas bidang sawah, empat bidang kebun kelapa, tiga kaveling ladang cengkih dan berpuluh-puluh keping koin emas itu bakal jadi milik kami. Tentu, setelah Nilam Sari, perempuan berkerudung api itu juga mati, menyusul Cu Sidar, emaknya. Mustahil Nilam Sari beroleh suami. Sebab, ia masih dikuasai kekuatan jampi-jampi kami. Maka, ia tetap saja perempuan berkerudung api. Siap membakar tubuh lelaki mana pun yang berhasrat memperistrinya.

"Persingkat saja penungguan kita!"
"Apa pula maksudmu?"
"Putuskan tali jantung perempuan itu! Biar mampus…."
"Jangan buru-buru, sabar sedikit!"
"Tak dibunuh pun, bakal mati sendiri"

****
Lengang benar rumah itu sepeninggal Cu Sidar. Sementara itu, gunjing perihal perempuan berkerudung api tak kunjung reda. Tak tahu Nilam, ke mana hendak mengadu. Kawan-kawan sejawat dan tetangga-tetangga dekat tiada berkenan mendengar keluh kesahnya.

"Kelak bila tak ada lagi yang dapat dianggap saudara, lebih baik pergi jauh-jauh!" begitu nasihat Cu Sudar pada Nilam Sari, beberapa hari sebelum kematiannya.
"Bolehlah kau tak berjodoh di kampung ini. Siapa tahu di negeri seberang, ada lelaki yang menunggumu."

Delapan belas bidang sawah, empat bidang kebun kelapa, tiga kaveling ladang cengkih, dan berpuluh-puluh keping koin emas peninggalan Cu Sidar, dijual Nilam Sari, ludes tak bersisa. Juga rumah dan semua perabotannya. Bukankah itu semua memang milik Nilam Sari?

"Kenapa tak kausisakan kami barang sedikit, Nilam?"
"Kami juga saudara emakmu, bukan?"
"Sisakanlah barang sebidang kebun kelapa atau ladang cengkih!"
"Saudara? Saudara apa namanya yang tega mengguna-gunai anak gadis saudaranya sendiri?"
"Kalian buat saya berkali-kali gagal menikah. Kalian baca jampi-jampi agar kerudungku tampak serupa kobaran api. Kalian ingin kami punah. Lalu, kalian bakal menjawab hak waris. Kalian masih menganggap emak saya sebagai saudara?"

Tergesa-gesa Nilam Sari pergi meninggalkan kami. Entah ke mana ia hendak menuju. Terus kami perhatikan langkah-langkah gegasnya. Di ujung jalan, sedan cokelat tua berhenti dalam keadaan pintu terbuka, siap membawa perempuan itu. Sebelum masuk ke dalam mobil, masih kami lihat kobaran api menjalar-jalar di ubun-ubunnya. Nilam Sari tetaplah perempuan berkerudung api, selama masih menginjakkan kaki di kampung ini. Pengaruh guna-guna itu akan musnah, bila ia sudah menyeberang laut. Entah siapa yang membuka rahasia jampi-jampi kami. Mungkin, Nilam bakal berlayar. Jauh, ke negeri seberang. Agar kutukan kerudung api itu hilang. Agar, ia segera beroleh jodoh. Menikah. Meneruskan silsilah keluarga Cu Sidar. Meski usianya sudah berkepala empat.

** Kelapa Dua, 2005

Menantu Baru

April 29th, 2008 by as3kayla

Menantu Baru

Cerpen: Damhuri Muhammad

(Kompas, 09 Juli 2006)

Sudah lama Irham tak menerima kiriman oleh-oleh. Rendang Ikan Pawas Bertelur. Gurih dan sedapnya seolah sudah terasa di ujung lidah. Apa Mak sedang susah? Hingga tak mampu lagi beli Ikan Pawas Bertelur dan bumbu-bumbu masaknya? Tak mungkin! Kiriman wesel dari anak-anak Mak, rasanya tak kurang-kurang. Lebih dari cukup. Jangankan Rendang Ikan Pawas Bertelur, bikin Rendang Hati Sapi pun Mak tentu mampu. Tapi, kenapa Mak tak berkirim oleh-oleh lagi? Mak sedang sakit? Kenapa pula tak ada yang berkabar? "Bukan kau saja, saya juga sudah lama tak dikirimi Krupuk Cincang," keluh Ijal, kakak sulung Irham yang tinggal di Cibinong.

Sejak kecil, mereka memang punya selera berbeda-beda. Kepala boleh sama-sama hitam, tapi tabi’at lidah tak serupa. Mak hafal makanan kesukaan masing-masing mereka, anak-anak kesayangannya. Ijal suka Krupuk Cincang. Dulu, hampir tiap pekan ia minta dibuatkan makanan itu. Pernah Ijal mengancam tidak mau ke surau bila Mak belum penuhi permintaannya. Jangan dibayangkan cemilan kampung itu dapat diperoleh di Jakarta. Meski ada satu dua toko yang menjual, tapi tak serenyah bikinan Mak. Entah bumbu apa yang dipakai Mak, hingga bunyi Krupuk Cincang itu berderuk-deruk dalam mulut Ijal. Tapi kini, Mak tak berkirim oleh-oleh lagi. Ketek, kakak laki-laki Irham yang satu lagi (tinggalnya di Ciputat) juga mengeluh. Katanya sudah kepingin sekali makan Lemang Tapai. Memang mudah dicari di Jakarta. Tapi baginya, tak ada Lemang Tapai yang mampu tandingi buatan Mak.

"Payah! Ndak ada kiriman Lemang Tapai lagi," ketusnya suatu kali, saat bertamu ke rumah Irham.

"Bukan uwan saja, semua sudah tak dapat," balas Irham.

"Basa bagaimana? Masih sering dikirimi Goreng Belut?"

"Ndak ada. Ndak ada lagi oleh-oleh!"

"Apa kalian ndak kirim uang lagi buat Mak? Mak sedang susah barangkali?"

Tanya-tanya nyinyir mereka terjawab setelah mendengar pengakuan si bungsu, Alida. Adik perempuan mereka satu-satunya. Ternyata, ia masih sering dapat oleh-oleh. Bahkan lebih sering dari biasanya. Berarti Mak masih rajin mengirim oleh-oleh. Cuma saja, datangnya bukan lagi ke rumah keluarga mereka; Ijal, Ketek, Basa dan Irham. Oleh-oleh hanya dikirim Mak ke alamat rumah kontrakan Alida, di daerah Pasar Minggu. Anehnya, kiriman Mak bukan Sambalado Tanak kesukaan Alida, tapi Dendeng Lambok, khusus buat menantu Mak. Suami Alida.

"Kenapa kau saja yang dapat oleh-oleh, Alida?"

"Bukan saya wan!"

"Iya, suamimu itu. Mestinya kami juga dikirimi bukan?"

Irham coba menghitung-hitung berapa lama Mak tak mengirim oleh-oleh. Ternyata, persis sejak Alida menikah. Sejak Mak punya menantu baru; Yung. Suami Alida. Ya, sejak itu Mak tak pernah lagi bikin Rendang Ikan Pawas Bertelur, Krupuk Cincang, Lemang Tapai dan Goreng Belut. Mak hanya kirim Dendeng Lambok buat Yung. Menantu kesayangannya.
Setahu Irham, sejak menikah dengan Alida, belum sepeser pun Yung kirim uang buat Mak. Lagi pula, apa yang bisa diharapkan dari lelaki yang tak jelas pekerjaannya itu? Sejak awal, Irham tidak setuju Alida menikah dengan Yung. Ia sudah carikan jodoh buat Alida. Firman, namanya. Sarjana teknik. Kini, bekerja di perusahaan pengeboran minyak lepas pantai. Bakal senang hidup Alida bila menikah dengan laki-laki pilihan Irham itu. Ijal juga sudah pilihkan Andra, putera tunggal pemilik perusahaan garmen di Jakarta. Ketek dan Basa memang tak pilihkan siapa-siapa. Alida boleh saja menikah dengan lelaki idamannya. Tapi dengan catatan; tidak dengan Yung.

Mereka tak mungkin merelakan Alida dipersunting Yung. Lelaki yang sudah pernah beristri. Sementara Alida masih gadis. Lagi pula, (kabarnya) perkawinan Yung yang pertama bubar karena ulah menggelapkan dana investasi di perusahaan yang dikelolanya. Yung sedang terlibat masalah besar. Perusahaannya bangkrut. Semua asetnya disita. Ia lari dari masalah. Mereka curiga, jangan-jangan Yung sedang dikejar-kejar banyak orang. Setidaknya, dikejar para penagih utang. Ah, jangan-jangan Yung berniat nikahi Alida hanya untuk berlindung, selamatkan diri. Ia terlilit utang. Bukan tak mungkin, kelak mereka juga yang turun tangan selesaikan masalah Yung. Tapi, entah ilmu apa yang dipakai Yung. Mak langsung saja menerima lamarannya. Tanpa pertimbangkan baik buruknya lebih dulu. Mak tak peduli pada keberatan kakak-kakak Alida.

"Ndak apa-apa, kalau kalian tak setuju. Mak tetap akan nikahkan Alida dengan Yung," begitu tekad Mak waktu itu.

"Pikir dulu masak-masak, baru ambil keputusan! Mak belum kenal siapa Yung itu."

"Sejak dari nenek moyangnya Mak tahu silsilah dia. Dia dari keluarga baik-baik. Kalian yang belum kenal Yung."

"Sudahlah! Tanpa kalian, pernikahan Alida tetap akan berlangsung. Mereka berjodoh, jangan kalian halangi!"

Bila sudah begitu, mereka tak bisa membantah. Suka tak suka, mesti hormati keputusan Mak. Meski berat hati, Ijal, Ketek, Basa dan Irham tetap harus pulang dan bantu penyelenggaraan pesta perkawinan Alida dan Yung. Mereka pun menyumbang sesuai kemampuan masing-masing.

Sudahlah! Tak usah kita menganggap Mak pilih kasih! Mak memang sering berkirim oleh-oleh buat Yung. Dendeng Lambok, masakan kesukaan menantunya itu. Barangkali, bukan karena Mak tak ingat lagi makanan kesukaan kita. Adik ipar kita itu baru saja memulai hidup di Jakarta. Pekerjaannya masih serabutan. Luntang-lantung. Belum ada penghasilan tetap. Masih susah. Mungkin jarang ia makan enak-enak seperti kita. Jadi, tak usahlah kita dengki!

"Ah, Mak terlalu memanjakan menantu."

"Uang Mak bisa habis karena selalu kirim oleh-oleh buat Yung."

"Makin dimanja, makin malas dia!"

Dulu, Yung memang anak baik-baik. Sekolahnya di pesantren. Sering ia memberi pengajian di mesjid kampung. Mak, salah satu jamaah yang suka dengan gayanya berceramah. Menyentuh sekali kata-katanya, begitu puji Mak. Tak jarang, jamaah ibu-ibu yang mendengar wiridannya menangis sesenggukan. Yung amat lihai bersilat lidah. Merangkai kalimat-kalimat jitu menggugah perasaan jamaah. Sejak itu, Mak ingin mengambil Yung jadi menantu. Kelak, setelah sekolahnya tamat. Tapi, harapan Mak tak kesampaian. Sebab, Yung merantau ke Jawa. Melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Inilah yang Mak belum tahu. Selama di Jawa, Yung bukan lagi mubaligh hebat seperti di kampung dulu. Ia sudah tanggalkan jubah ustadznya. Mungkin, Yung sudah lupa cara menyentuh perasaan jamaah, hingga menangis terisak-isak seperti Mak. Konon, Mak pernah datang ke rumah orang tua Yung. Melamar lelaki itu untuk Alida. Tentunya nanti setelah kuliahnya rampung. Tapi, setelah saatnya tiba, Yung tak pulang. Kabarnya, Yung menikah dengan gadis lain di Jawa. Mak juga dengar kabar buruk itu. Tapi, Mak tak kecewa.

Berselang beberapa tahun, Yung pulang. Sudah duda. Meski belum punya anak. Orangtuanya datang menemui Mak, hendak menyambung cerita lama. Melamar Alida. Bila telapak tangan kurang lebar, dengan niru saya tampung niat baik itu, jawab Mak. Gayung bersambut, hingga akhirnya Yung menjadi menantu kesayangan Mak. Dan, selalu saja dikirimi oleh-oleh.

"Gara-gara menantu Mak itu, kita tak pernah dapat oleh-oleh lagi."

"Mak lebih sayang pada menantu daripada anak-anaknya sendiri."

"Apa yang sudah diberikan Yung pada Mak? Sementara kita tiap bulan kasih jatah buat Mak."

****
Percuma saja Suarni dan Said menyekolahkan mereka tinggi-tinggi. Setelah semuanya jadi orang, bukan makin dekat, malah makin jauh dari kampung. Jauh dari orangtua. Itulah susahnya punya anak laki-laki. Bila sudah besar, mereka akan tinggal di rumah orang. Di rumah anak-bini. Sibuk mengurus keluarga sendiri-sendiri. Wesel kiriman Ijal, Ketek, Basa dan Irham (yang sudah terbang-hambur dari kampung) memang selalu datang tiap bulan. Tapi sebenarnya, Suarni dan Said tak butuh uang. Untuk apa? Tanpa kiriman wesel pun, mereka tidak akan kekurangan. Hasil sawah dan ladang sudah cukup menghidupi mereka berdua.
Di usia yang tersisa, Suarni dan Said ingin berkumpul kembali dengan anak-anak. Merasakan kehangatan di tengah-tengah mereka. Seperti dulu, saat mereka masih di kampung. Keduanya tak henti-henti berharap. Mudah-mudahan, ada di antara anak-anak yang mengajak tinggal di Jakarta, menghabiskan hari tua di sana. Aih, betapa menyenangkan bila Suarni masih dapat membuatkan makanan kesukaan Ijal, Ketek, Basa atau Irham. Tapi, setelah sekian lama menunggu dan berharap, ajakan itu tak kunjung tiba. Kalaupun sekali waktu Suarni dan Said datang berkunjung, itu hanya sekedar menjenguk cucu-cucu, sepekan dua pekan. Setelah itu, kembali pulang ke kampung. Tidak untuk tinggal berlama-lama, sebagaimana keinginan mereka.

Harapan Suarni dan Said kini beralih pada Alida. Anak perempuan semata wayang, yang juga memilih hidup di Jakarta sejak menikah dengan Yung.

"Pandai-pandailah mengambil hati menantu! Sering-seringlah berkirim oleh-oleh!" saran Said pada Suarni.

"Oleh-oleh?"

"Ya, agar lidah menantu baru kita terbiasa dengan masakanmu!"

Mungkin, itu sebabnya Suarni selalu memasak Dendeng Lambok, lalu dikirimkannya buat Yung. Berkali-kali Suarni dilarang anak-anaknya; Ijal, Ketek, Basa, Irham. Jangan terlalu memanjakan menantu! Jangan pilih kasih! Suarni tak peduli. Makin dilarang, makin gencar saja ia berkirim oleh-oleh. Tak bakal berhenti Suarni berkirim Dendeng Lambok buat Yung. Agar lidah menantunya itu terbiasa dengan masakannya. Hingga, suatu waktu (entah kapan) Yung berkenan mengajaknya tinggal, berkumpul-bersama di Jakarta. Di sanalah, Suarni dan Said bakal habiskan umur yang tersisa. Semoga!

Kelapa Dua, 2006

PADUSI

April 29th, 2008 by as3kayla

P A D U S I

Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD

(Tabloid NOVA, Edisi 09/04/2006)

Seolah ada yang menghentak di rongga dadanya bila menatap mata perempuan itu, serasa menguap cairan di tenggorokan bila mendengar suaranya. Risih, salah tingkah, gugup. Mereka masih kelas dua waktu itu. Masih bau kencur. Duduknya di lajur meja murid perempuan.Sementara lelaki itu di deret paling belakang lajur meja murid laki-laki. Saat guru uraikan materi ajar, ia asyik mematut-matut bentuk tubuh perempuan itu, dan berharap sesekali ia menoleh ke belakang. Padusi, namanya. Tak termasuk kategori cantik bila dibanding dengan perempuan lain di kelas itu. Juga tak terlalu cerdas. Sedang-sedang saja rangkingnya. Tapi, kulitnya putih. Amat putih. Parasnya seperti orang Jepang. Mirip Oshin. Memang ia tidak cantik, tapi berwajah unik. Dan, lelaki itu suka!

Kota kecil itu terhampar di dataran tinggi, di garis tengah antara Padang dan Bukittinggi. Paling dingin dari kota-kota lain. Yang penting bukan soal suhu udaranya itu, tapi perihal sejarah yang mencatatnya sebagai Serambi Mekah. Pesantren-pesantren tegak berdiri. Kota Santri. Tempat orang mengaji. Tiga tahun Husnan di sana, sejak terdaftar sebagai siswa Madrasah Aliyah Negeri. Sebagian besar siswa tinggal di asrama. Tapi, Husnan menyewa kamar kost. Jangankan bayar biaya asrama, minta persetujuan emaknya untuk bersekolah di sana saja susahnya minta ampun. Bukan tak mau, tapi karena emaknya tak mampu. Husnan tinggal di kamar berlantai palupuah. Bambu kering yang dihancurkan, lalu dihamparkan seperti tikar. Memadai sebagai lantai, pengganti papan. Pemilik rumah itu perempuan paruh baya yang bersendiri sejak kematian suaminya. Di sisi kiri kamar Husnan, ia buka warung sederhana. Jualan bubur kacang hijau, ketan dan lontong sayur. Husnan memanggilnya : Etek. Sebutan paling santun bagi perempuan seusianya. Belum sempat ia bertanya, etek punya anak? jika punya di mana mereka? kenapa anaknya tak pulang? Yang jelas, etek kewalahan kerja sendiri

Tanpa disuruh, Husnan turun tangan mencuci piring kotor yang menumpuk. Diperhatikannya cara etek hidangkan porsi kacang hijau, lontong sayur dan ketan. Lambat laun, Husnan belajar cara masaknya. Sebelum subuh ia sudah bangun, kadang lebih dulu bangun dari etek. Dimulainya pekerjaan yang ia bisa. “Sejak dulu banyak anak-anak aliyah tinggal di sini, tapi belum ada yang ringan tangan sepertimu” begitu etek memuji. Tak lama, Husnan makin telaten. Masak, bumbui gulai, bikin adonan tepung untuk pisang goreng, layani pembeli. Bulan ketiga Husnan mesti bayar sewa kamar, etek menolak. Dimintanya Husnan tak merasa sebagai penyewa lagi. Sejak itu, hubungan mereka tak serupa penyewa dan pemilik barang sewaan.

Pulang sekolah Husnan ke pasar. Belanja keperluan warung. Aneka jajanan ringan pengisi toples, bumbu-bumbu masak. Kerap ia kepergok teman-teman perempuan sekelas di angkutan umum. Mukanya berpeluh setelah memikul barang bawaan. Seragamnya belepotan bumbu giling, karena plastiknya bocor. Mereka bisik-bisik, sesekali tertawa cekikik. Entah apa yang lucu. Tapi Husnan duga, tentu mereka sedang asyik bergunjing dan menertawakan kemiskinannya.

Nama lengkapnya Husnan Daresta. Tapi, di daerah sekitar warung itu dipanggil : Oyong. Karena kerempeng, cara jalannya agak aneh. Terhuyung-huyung seperti orang mabuk. Di sana, ‘terhuyung-huyung’ lebih tepat disebut ‘Oyong’. Oleng, karena tak imbang. Jadilah : Oyong. Nama warungnya ; Lepau Baru. Pagi, ia layani teman-teman asrama, malamnya bapak-bapak, preman-preman kampung yang nongkrong sambil minum kopi, nonton tv dan berjudi. Di sana, warung bakal sepi bila tak sediakan fasilitas judi.
***

Mengendap-ngendap Husnan di halaman asrama puteri. Pelan-pelan mendekat ke jendela kamar. Mengintip. Tak hanya hafal letak kamar, ia juga hafal posisi tidur perempuann itu. Tak ada hasrat apa-apa, meski nyaris tiap malam Husnan mengintipnya. Meski ada bagian tubuhnya yang tersingkap. Nyaris semua anak-anak daerah itu kenal Husnan. Meski tertangkap, mereka hanya akan ketawa atau bergabung mengintip. Bila bergabung, disarankannya agar mereka intip kamar yang lain, selain kamar Padusi.
“Cari sasaran sendiri-sendiri! Jangan caplok sasaran sesama pengintip!” bisiknya memberi peringatan
“Bilang saja kalau ndak boleh mengintip si Oshin itu!”
“Banyak cewek, tinggal pilih! Asal jangan Oshin. Jika belum ada lubang, buatlah lubang baru! Awas, jangan sampai ketahuan!”

Banyak catatan ditulisnya, tak selembar pun sampai ke tangan Oshin. Saban hari mereka berpapasan, bahkan kerap dapat kesempatan berdua. Tapi lidahnya seakan menggulung, tak mampu ucap apa-apa. Sering Oshin beli ketan dan pisang goreng masakannya. Berkeringat dingin ia saat bungkusi pesanan Oshin. Suatu pagi saat Oshin datang sendiri ke warung, tak sengaja ia pecahkan tiga gelas sekaligus.

Seorang teman dekat Husnan lancang berterus-terang pada Padusi. Maksudnya baik. Ia ingin Padusi tahu, Husnan jatuh hati setengah mati padanya. Reaksi Padusi kurang santun,

“Husnan itu preman, temannya orang-orang pasar”
“Anak sekolah kok mau jadi preman?”

Tak nyaman Husnan dengar nada sumbang itu. Tiba-tiba ia nekat. Dimintanya teman dekat itu panggil Padusi, Husnan menunggu di samping bangunan SD, tak jauh dari asrama itu. Padusi datang, Husnan langsung saja sampaikan perasaannya yang meluap-meluap selama ini. Oshin diam sambil menelan ludah, tak beri jawaban. Lalu, pergi.

Mungkin Padusi menolaknya mentah-mentah. Husnan lega. Hasrat menggebubung itu sudah terkatakan. Tapi, tak henti-henti Husnan dengar gunjing Padusi. Soal Husnan yang punya teman-teman preman, perokok berat, tak terpelajar, penjudi, suka mabuk. Bahkan Oshin pernah semburkan kalimat,“Husnan itu miskin”. Ini didengarnya dengan telinga sendiri.

Malam larut. Warung sepi. Tinggal Husnan dan teman-teman preman. Dibukanya sebotol Mansion ukuran sedang. Digasaknya sendiri. Tanpa sadar, semua kegilaannya pada Padusi terungkap. Juga luapan patah hati, karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Rindu Seorang. Tiada berbalas. Hanya seorang.
“Ditolak ya ditolak, tapi jangan menghina!” ketus Bocet,
Husnan mabuk berat. Muntah-muntah. Wes, Jon Kompo, Cepong, Acil, Pencino, Mentiko, Onal, Muncak merasa kurang senang.
“Tenang Yong, kita buat Oshin mau. Masa’ orang seganteng kau ditolak?” kata Cepong membujuk, sekaligus meledek Husnan.
“Bila perlu kita paksa. Kalau ndak mau kita buat susah dia” dukung Pencino bersemangat.
Husnan mencegah. Tak mungkin ia biarkan preman-preman itu mencak-mencak, apalagi ngamuk-ngamuk di asrama puteri. Jangan sampai mereka bikin Husnan malu.
***

Seperti lazimnya, Koto Baru Padangpanjang penuh sesak oleh para pencinta alam. Mereka bakal nikmati detik-detik pergantian tahun di puncak gunung Singgalang. Sekilas Husnan lihat Padusi dalam keramaian itu. Rupanya Oshin juga hendak mendaki bersama rombongan teman-teman asrama. Berani-beraninya mereka berpasang-pasangan. Masa’ cewek-cewek jilbab ikut-ikutan pesta tahun baru di puncak gunung? Bila ketahuan, bisa dikeluarkan dari sekolah.

Padusi bergandengan dengan siswa kelas satu. Gila!. Ia pacaran dengan adik kelas. Husnan, Wes, Pul Cepong, Mentico, Onal, Muncak sedang nongkrong (sambil nyanyikan lagu-lagu lama dengan iringan gitar yang dimainkan Husnan), di gerbang pesangrahan yang dilewati para pendaki. Bagaimana pun desir di dadanya tak bisa sembunyi.Petikan gitarnya sejenak berhenti, Husnan ingin dekati Padusi. Walau sekedar tegur sapa.

Menyeringai seperti kucing laki-laki itu, menggertak Husnan.Postur tubuhnya besar. Lebih besar dari Husnan. Tanpa jeda, Husnan langsung tinju batang hidungnya. Berdarah. Saat ia berusaha melawan, Husnan hantam ulu hatinya, hingga tersungkur di depan Padusi. Masih mau membalas, teman-teman Husnan datang berhamburan.Satu persatu beroleh jatah. Babak belur pacar si Oshin, mukanya bonyok setelah dikeroyok. Husnan mulai kasihan, dilerainya keributan itu. Diberdirikannya laki-laki itu, dipapahnya. Bocet, Pencino, Pul Cepong dan Muncak melongo.

“Mau apa kau sebenarnya? Sudah kau hajar tapi kau pula yang menolong”
“Ndak baik berkelahi malam tahun baru” balas Husnan
“Hmn..! tapi dia sudah kau buat bengkak-bengkak”
Padusi dan rombongan batal mendaki. Berbalik arah kembali ke asrama. Ketakutan setelah saksikan sepak terjang Oyong Lepau Baru.

Sejak malam tahun baru kelabu itu, Padusi gamang lihat tampang Husnan. Ia mulai jaga cara bicaranya yang pongah itu. Diam-diam cari simpati. Tapi, Husnan tak selera lagi, meski rasa sukanya masih ada. Kegemarannya mengintip dari balik jendela kamar Padusi terus berlanjut, begitu pun kebiasaannya bayangkan segala kemungkinan paling indah andai Oshin jadi kekasihnya.
***

Lelaki itu, mahasiswa tahun pertama. Selain berkuliah ia kerja serabutan ; pengantar Susu Segar Murni keliling. Sewaktu antar pesanan pelanggan baru di sebuah perumahan di kota ini, seolah ada yang menghentak di rongga dadanya, serasa menguap cairan di tenggorokannya. Pelanggan itu mahasiswi berkulit putih serupa perempuan Jepang. Mirip Oshin ; Padusi. Ganjil penampilan Oshin. Leher mulus dan rambut lurusnya yang dulu hanya terlihat saat lelaki itu mengintip dari lubang jendela, tersingkap kini. Tanpa kerudung. Padusi pura-pura tak kenal.Padahal lekuk-lekuk wajah Oshin, mana mungkin ia lupa? Sorot mata perempuan itu ingin agar ia segera enyah. Lelaki itu pun cabut. Tapi ia lega. Sudah lama tak bertemu Oshin.

Sore itu pertemuan terakhir mereka. Tak nampak lagi batang hidung lelaki itu. Mungkin, telah dikuburnya rindu pada Padusi. Mungkin, ia sudah paham, perempuan itu tak akan berdamai dengan kemiskinannya. Mungkin sudah dilupakannya Padusi. Dilupakannya Oshin. Meski, tak pernah ia benci perempuan itu.

Jogja, 16 Juli 2001

“Di mana ia kini?”
“Di mana Oshin-mu itu, Husnan?”

Kabar terakhir yang kudengar, kuliahnya kacau. Padusi drop out. Karena buru-buru harus nikah dengan juragan kelapa sawit di kampungnya. Padusi bunting di luar nikah. Kini, ia sudah beranak tiga. Dua perempuan, satu laki-laki. Dan, raut mukanya tak serupa Oshin lagi.

Kelapa Dua, 2005

Siklus Pengolahan Data

April 18th, 2008 by as3kayla

Sistem komputer memiliki siklus pengolahan yang pasti. Siklus pengolahan itu sendiri mengacu kepada makna dari arti komputer itu sendiri. Ada tiga pokok dalam siklus pengolahan data dengan menggunakan komputer tersebut, yaitu input, proses, dan output. Sedangkan untuk proses sendiri, pemroses dibantu oleh beberapa bagian lain, yaitu program serta penyimpan (storage). Input

Merupakan aktifitas pemberian data kepada komputer, dimana data tersebut merupakan masukan bagi komputer. Agar data dapat diterima oleh komputer dengan baik, komputer memiliki peralatan yang berfungsi untuk hal ini, yang disebut dengan input device .

Jika dianalogikan dengan manusia, manusia juga memiliki input device ini, diantaranya adalah mata, telinga, syaraf-syaraf, dan lain-lain. Masing-masing input device tentu berfungsi spesifik terhadap bagaimana informasi tersebut dapat diterima oleh manusia. Misalnya mata, mata digunakan sebagai input defice untuk melihat, lalu data hasil penglihatan tersebut dikirimkan ke otak untuk diproses lebih lanjut, diabaikan atau informasinya disimpan di dalam ingatan.

Pada komputer, input device ini juga bermacam-macam, tergantung bagaimana proses input tersebut dilaksanakan. Bermacam-macam input device yang digunakan oleh komputer, contohnya adalah keyboard untuk mengetikkan informasi, pembaca kode batang pada transaksi di supermarket, kamera untuk menangkap gambar, dan lain sebagainya. Masukan yang didapatkan oleh input device tersebut informasinya dikirimkan ke pemroses (otaknya komputer) untuk diproses lebih lanjut, diabaikan atau informasi tersebut disimpan dalam media penyimpanan.

Proses

Setiap masukan yang disampaikan kepada komputer akan masuk ke pemroses, pemroses ini dikenal juga dengan nama processor . Pemroses ini bisa disebut dengan otaknya komputer. Pemroses ini akan menentukan akan diapakan informasi yang masuk tersebut. Jika diolah lebih lanjut, maka data tersebut diolah sesuai dengan ketentuan yang telah disusun sedemikian kedalam otak komputer. Ketentuan yang telah disusun ini adalah instruction set. Instruction set ini merupakan format baku perintah yang dapat dilaksanakan oleh pemroses. Pemroses memiliki hubungan dengan media input, program, storage serta media output. Masing-masing akan dikontak oleh pemroses sesuai dengan tugasnya masing-masing.

Pemroses ini hanya berfungsi untuk menjalankan perintah yang diterimanya dari program. Tindak lanjut dari masing-masing perintah, katakanlah menampilkan data terebut ke monitor atau ke printer, maka pemroses akan mengirimkan lagi hasil olahannya ke media yang dituju. Dengan mengirimkan data ke media yang dituju, maka berarti pemroses menyerahkan tugasnya kepada media tersebut sambil mengirimkan data-data yang diperlukan oleh media yang dituju serta instruksi yang diminta untuk dilaksanakan oleh media yang dituju itu tadi.

Bus

Bus merupakan jalur penghubung antar alat pada komputer yang digunakan sebagai media dalam proses melewatkan data pada suatu proses. Bus ini bisa dianggap sebagai sebuah pipa, dimana pipa atau saluran tersebut digunakan untuk mengirimkan dan menerima informasi antar alat yang dihubungkannya. Pada sistem komputer, bus ini termasuk perangkat internal, kecepatan pengiriman informasi melalui bus ini dilakukan dengan kecepatan tinggi.

Program

Program merupakan kumpulan instruction set yang akan dijalankan oleh pemroses, yaitu berupa software. Bagaimana sebuah sistem komputer berpikir diatur oleh program ini. Program inilah yang mengendalikan semua aktifitas yang ada pada pemroses. Program berisi konstruksi logika yang dibuat oleh manusia, dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa mesin sesuai dengan format yang ada pada instruction set.

Storage

Dalam menjalankan proses, selain proses diatur oleh program, pemroses juga memiliki akses ke media penyimpan yang disebut dengan storage. Storage ini berfungsi untuk menyimpan berbagai informasi yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi pemroses, baik untuk penyimpan sementara maupun untuk jangka panjang. Pemroses melakukan tugasnya sesuai dengan kendali yang ada pada program. Proses untuk mengambil data atau menyimpan data pada storage ini dilaksanakan oleh pemroses sesuai dengan perintah yang diterima pemroses dari program yang sedang ia jalankan.

Output

Merupakan aktifitas menerima data dari hasil pengolahan pada bagian pemroses. Jika terdapat data pada aktifitas output ini, berarti pemroses menyerakan tugas selanjutnya kepada bagian ini. Tentu saja pada bagian ini diperlukan juga peralatan yang bekerja, dimana peralatan terebut disebut dengan output device. Jika kita kembali ke analogi manusia, output device ini contohnya adalah tangan, dimana tangan berfungsi untuk menuliskan informasi yang diminta oleh otak. Pada komputer contoh output device ini adalah printer (pencetak). Ketika data output dari pemroses diterimanya maka printer akan melaksanakan tugas yang diterima dari pemroses tadi.

___________
jack FebrianDosen dan Praktisi Teknologi Informasi di Bandung. Telah menulis beberapa buku, diantaranya Menggunakan Internet, Kamus Komputer dan Teknologi Informasi, Menjelajah Dunia dengan Google, Tentang Pendidikan Tinggi di Indonesia, dll..
untuk artikel yang lain dapat dilihat di homepage http://as3kayla.blogspot.com

soulmate 3

April 7th, 2008 by as3kayla

(28 juli 2007)

Kau beri warna di dunia ku berpijak

Cerahkan pandang di gelap hariku

Kau lantunkan melodi indah

Dendangkan syair di sepi hidupku

Masih adakah warna seindah warnamu ??

Masih adakah melodi seindah dendangmu

———————————————————————————

(15 agustus 2007)

Tak ingin ku melangkah pergi

Tak kan ku meninggalkanmu

Hingga nanti

Waktuku telah usai

Tak ingin ku beranjak

Tak ingin waktu tuk berlalu

Saat kau di sisiku

———————————————————————————

(11 september 2007)

Siapakah engkau yang berdiri tegak dekat dengan hatiku

Dalam lorong waktu

Antara malam, fajar dan senja

(Ayah … terima kasih untuk semuanya.Semoga kisah kita akan abadi tuk selamanya)

———————————————————————————

soulmate 2

April 7th, 2008 by as3kayla

(14 mei 2007)

Lihatlah …

Mesti langit tak berbintang

Bulan tak bersinar

Betapa indah malam ini

Senyummu … hadirmu …

Lebih dari segalanya

Dan aku terpenjara dalam rinduku

———————————————————————————

(29 mei 2007)

Hembusan suara malam mendayu lirih

Nyanyikan lagu kerinduan

Harapku terus bersamamu

Merenda hari … menyemai asa

Kau mimpi indah penyekat malam gelapku

———————————————————————————

(1 juni 2007)

Melayang … segurat wajah berbalur rasa

Membekas … tiap detik yang terlewati

Terbayang … menuai asa bersamamu

Terima kasih untuk tulus sayangmu Q

———————————————————————————

(2 juni 2007)

Tertulis sebuah kisah

Tersatukan oleh misbah

Kaulah tulisan terindah

Di lembaran hidupku

———————————————————————————

(17 juni 2007)

Bayang senja diantara detik yang terus berlalu

Ada apa dengan hari ini ??

Bahkan jiwa … diriku pun tak mampu ungkapkannya

Semua karenamu … ku bahagia

Met ultah sayang … semoga tercapai semua cita dan cintamu

———————————————————————————

(20 juni 2007)

Kaulan setangkai bunga hatiku

Mekar indah mewangi … di tiap tarikan nafasku

Meski gelap … langit mendung tak berwarna

Kau terangi hariku

soulmate 1

April 7th, 2008 by as3kayla

(11 mei 2007)

kau ornamen penghias hidupku

sepi dunia tanpa hadirmu

gelap dan tiada berwarna

kaulah matahari penerang kalbuku

sisi-sisi gelapku pun terbias cahyamu

terang ….

Malaikatku ….

April 7th, 2008 by as3kayla

hanya kaulah sandaran hidupku
hanya kamu yg bisa mengerti perasaanku
hanya dirimu slalu ada dalam suka dan dukaku
menemani disetiap hariku
dengan semua canda tawamu
hanya dirimu yang dapat buatku bahagia
hanya kamu yang dapat memayungiku
yg selalu melindungin dan menyemangatiku
tanpamu…………
tak ada semangat dalam hidupku
dan tak ada senyum dalam tangisku
hanya kamu yang akan slalu ada untukku
kamu bagaikan nafas hidupku
tanpamu……..
takkan berarti lagi hidupku
bagiku kaulah malaikatku

Arti Cinta

April 6th, 2008 by as3kayla

Arti Cinta

Di dalam kedinginan jiwaku

Kau hadir mendekap erat kalbuku

Dalam kesendirian nuraniku

Kau temani aku dengan kemesraan

Dalam kegalauan jiwaku

Kau hadir untuk menghiburku

Dalam kesepian malamku

Kau hadir dalam indahnya mimpiku

Tiada yang kupikirkan selama ini

Kecuali aku merasa berarti bersamamu

Kan kuayun langkahku ini

Bersama irama kerinduan yang khan slalu menyelimuti hatiku

Aku sadar bahwa kamulah anugrah terindah